13 Buku GagasMedia pilihan si (sok) GagasAddict

677260721a3b11e3b7d622000a1f968a_7
Gambar: koleksi pribadi

Mengaku-aku sebagai #GagasAddict tapi sering telat ngikutin event-event yang diadain penerbit kesayangan ini. Bahkan, sewaktu para blogger berpesta-pora saat GagasMedia ngadain event #UnfotrgotTEN, menuliskan 10 pesan/kesan/keinginan mereka dan 10 buku Gagas pilihan mereka, aku ketinggalan informasi. Sebenernya udah baca prosedur event dan ‘karya’ beberapa peserta, tapi aku gak tahu kalau event itu akan berakhir dalam watu dekat. Demi menebus ketertinggalanku, hari ini aku membuat satu postingan tentang 13 buku GagasMedia pilihanku. Kenapa 13? Ini karena aku ingin merayakan umur 21 tahunku yang akan segera tuntas di tanggal 13 bulan depan. *teteeeep promosi* hihihihi

Baiklah, mari kita tuntaskan segera basa-basi ini. *sumpah aku gak pandai berbasa-basi* Berikut 13 buku GagasMedia yang kupilih dengan beragam alasan:

1.      Montase

01

Buku ini yang pertama kali membuatku ketagihan membaca buku-buku GagasMedia. Membeli buku ini sekitar bulan Februari namun baru kubaca sekitar bulan April. Aku menunda-nunda menyentuh buku ini karena semula mengira jika buku ini hanya ikut-ikutan tren buku-buku berlatar luar negeri yang tengah hits saat itu (mis. Korea, Jepang, dll). Setelah kucoba membaca beberapa bab awal, aku meneguk ludah, ternyata kesinisanku di awal salah besar. Buku ini membuatku seolah tersihir, menamatkannya dalam dua-tiga hari saja (untuk ukuran pribadiku, dua-tiga hari untuk satu buku itu tergolong cepat, sangat cepat). Setelah menamatkannya, aku merasa ‘penuh’ dan ‘lapar’ sekaligus. Setelah itu, aku memutuskan untuk mulai mencintai Windry Ramadhina dan mulai mencari buku-bukunya yang lain.

2.      Memori

02

Setelah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya pada Windry Ramadhina melalui Montase, aku jatuh cinta lagi beberapa minggu berikutnya pada Mbak Windry melalui Memori. Aku begitu memuja kisah Mahoni, Simon, Sigi, dan lainnya ini. Mbak Windry mengemas kisah yang tak melulu tentang cinta dengan cerdas! Amat cerdas. Baiklah, memang tak tepat jika kukatakan Memori ini tak melulu tentang cinta. Kisah percintaan memang tak begitu dominan, tetapi cukup banyak prosinya dalam novel ini. Setelah ‘penuh’ dan ‘lapar’, aku menemukan rasa lain setelah membaca novel ini. Hangat. Sampai hari ini, buku ini adalah buku favoritku, dan mungkin akan lama mendiami deretan buku terbaik menurutku pribadi.

3.      London: Angel

03

Yup! Lagi-lagi Windry Ramadhina. Jangan heran melihatku begitu memuja penulis yang satu ini. Memang aku belum pernah bertemu secara langsung, tapi, melalui jawaban-jawaban beliau untuk pertanyaan bawelku di surel, tulisan beliau di blog pribadinya, juga cara beliau memperlakukan pemuja karya-karyanya di media sosial. Beliau memang layak untuk diidolakan, tidak hanya karya-karyanya tetapi juga kepribadian beliau. Duh, jadi melenceng begini, kan. Hehehe. Begini, novel ini membuatku menemukan rasa yang lain lagi setelah menuntaskannya. Sendu. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Mbak Windry tentang karyanya yang satu ini, aku memang menemukan rasa itu. Lagi-lagi, aku berjodoh dengan karya beliau yang kali ini berwarna merah menyala, senada dengan warna booth telepon umum dan bus bertingkat di London.

4.      Infinitely Yours

04

Seingatku, ini novel pertama dari GagasMedia yang kubaca. Novel ini membuatku begitu ingin beralih dari menulis fanfiksi ke menulis sebuah novel. Meski fanfiksi yang kubuat saat itu tidak seberapa bagus, aku yakin jika aku bisa belajar untuk menulis sebaik Orizuka mengisahkan novel ini. Sejak itu, aku memulai perjalananku yang baru, dengan tujuan utama: MENJADI SEORANG PENULIS NOVEL.

Tentang novel ini, aku tidak begitu berprasangka jika novel ini memplagiat film Thailand, Hello Stranger. Meski ide dasarnya mirip, aku mendapati novel ini dieksekusi dengan cara yang berbeda. Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan.

5.      Good Fight

05

Setelah membaca Shit Happens, Pillow Talk, dan Good Fight secara marathon, dengan berat hati aku memutuskan Good Fight yang terbaik diantara ketiganya. Tidak ada yang buruk, tidak ada yang tidak kusukai. Hanya saja aku menyukai Good Fight karena kisahnya yang bikin geram. Dua tokoh utama yang semula bermusuhan lalu terjadi insiden yang membuat mereka akhirnya mulai menyadari jika saling suka selalu menjadi kisah yang menarik bagiku. Tetapi tentu saja tergantung bagaimana cara sang penulis mengemas kedua orang yang bak anjing dan kucing itu lalu kemudian bisa jadi akur. Dan untuk Good Fight, Bang Christian Simamora berhasil. Dengan saaaaaangat sukses.

6.      #AYCE = All You Can Eat

06

Sejak Bang Christian mulai membagi-bagi cerita tentang naskah terbarunya di awal tahun lalu, aku selalu mengikuti perkembangan naskah itu. Rasa penasaran setelah puas membaca Good Fight membuatku berekspektasi tinggi pada novel All You Can Eat ini. Ternyata, setelah menuntaskan kisahnya, lagi-lagi aku tersenyum puas. Meski buku ini cewek banget karena memang pangsa pasar Bang Chris adalah wanita-wanita dewasa atau menjelang dewasa atau yang mengaku-aku/memaksakan diri untuk dewasa. Aku banyak belajar dari tulisan-tulisan Bang Chris, walaupun tujuan awalku membaca karya-karyanya hanya sebatas hiburan.

7.      Marriageable

07

Mencengangkan! Begitu blak-blakan, jujur, rame, spontan. Ini novel yang benar-benar apa adanya, gak berusaha untuk terlihat cerdas karena pada dasarnya deskripsi, dialog, dan celetukan-celetukan dalam novel ini memang betul-betul cerdas. Bertajuk novel dewasa karena memang isinya berkisar tentang kehidupan sehari-hari sekumpulan manusia dewasa metropolitian yang begitu kritis dan kadang tanpa sungkan menertawakan kekonyolan mereka sendiri. Menghibur.

8.      Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu

08

Ini buku nonfiksi pertama dari GagasMedia yang pertama kubeli. Buku Draf 1 ini penting, membuatku belajar banyak hal penting tentang menulis sebuah karya fiksi, sesuai dengan tujuan ditulisnya buku ini oleh Winna Efendi.

9.      Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka

09

Sesuai dengan tagline-nya, novel ini membawa lelucon untuk setiap duka yang dialami oleh dua tokoh utama yang begitu mengejutkan. Novel yang pernah menjadi nominator untuk kategori Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Literary Award 2007 silam ini menghadirkan kejutan tak terduga di setiap babnya, terlebih lagi endingnya yang tidak terduga.

10.  Jatuh Cinta

10

Novel yang diterbitkan tahun lalu ini aku beli setelah mengetahui jika naskah kisah ini ternyata salah satu dari 20 besar peserta di kompetisi menulis 100% Romance Asli Indonesia yang diadakan GagasMedia tahun 2010. Ceritanya simpel, menarik karena dituturkan dengan gaya khas cowok. Jevo Jett berhasil membawa kisah romantis ke bentuk yang lebih gagah, gak menye-menye.

11.  Melbourne: Rewind

11

Aku tercengang begitu mengetahui kisah ini ternyata tentang sepasang mantan kekasih yang bertemu kembali setelah beberapa tahun berpisah. Berdua, mereka menjelma menjadi sepasang sahabat yang lama tidak bertemu. Bedanya kisah ini dengan kisah serupa itu tampak pada gaya penceritaan Winna yang begitu khas.

12.  Unforgettable

12

Ini buku GagasMedia tertipis yang aku punya sampai hari ini. Mengangkat cerita seputar wine dan beragam jenisnya, kisah ini tampil apik meski tanpa dialog sama sekali. Bukan benar-benar tanpa dialog, ada dialog, tapi tidak dikemas secara langsung melalui tanda kutip seperti dialog-dialog dalam novel pada umumnya. Percakapan dibedakan dengan garis miring dan huruf cetak normal. Sudah beberapa kali kuulangin membaca novel ini, tapi selalu saja kutemukan pengalaman baru setiap kali kutamatkan kisah ini. Ini adalah karya Winna Efendi pertama yang kubaca.

13.  Restart

restart cover

Maaf ya, Mbak Nina. Tapi aku gak bisa gak ikut dalam kubu penuntut kebenaran yang curiga kalau Fedrian Arsjad ini adalah wujud fiksi dari seorang aktor/musisi yang disebut dalam ucapan terima kasihnya Nina Ardianti di novel ini. Hehehe. Secara keseluruhan, buat buku yang cukup tebel, novel ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Sempat geram di beberapa bab karena hubungan dua tokoh utama yang raawwrrrrrr!!

Iklan