Review Novel CineUs

Judul: CineUs

No. ISBN: 0190166187 (ISBN13: 2012190166187)

Penulis: Evi Sri Rezeki (@EviSriRezeki)

Penerbit: Noura Books

Terbit: September 2013

Jumlah halaman: 304 Halaman

Harga: Gratis! Rp. 48.500,00


BW9LbGwCIAA7Qhy

Saat merobek paket bersampul cokelat, aku mendesah lesu. Seketika saja kukira paket yang kuterima sore itu berupa buku non-fiksi yang membahas mengenai perfilman, ini karena judulnya yang film sekali! Tapi sewaktu membalik sampulnya, kutemukan tulisan tangan sang penulis yang mengucapkan ‘semoga novel ini bisa menjadi penyemangat’ disertai bubuhan tanda tangannya. Barulah kemudian kusadari jika buku ini (yang kudapatkan karena mengungguli peserta lainnya, aku pengirim cerpen pertama di #AntologiRindu yang diadakan oleh @Sinshaen) adalah sebuah novel.

BW9KWbjCAAI7xTq

Menamatkan buku ini memakan waktu yang cukup lama. Bukan karena bukunya kurang menarik atau apa, melainkan karena aku mulai membacanya di waktu yang kurang tepat. Sibuk karena mengurus segala tetek bengek pendaftaran sidang skripsi, panggilan interview dan psikotes pekerjaan, hingga persiapan Idul Adha.

Baiklah, kita mulai saja membahas mengenai buku ini. Judul yang dipilih nona Evi untuk buku ini benar-benar keren! Simpel tapi mengena. Benar-benar film, menurutku. Judul yang sangat film itu diiringi dengan isi yang benar-benar didominasi dengan bermacam cuap-cuap tokoh utama tentang film. Terlihat betul jika penulis benar-benar memiliki pengetahuan khusus ataupun telah melakukan riset yang mendalam sebelum menulis novel ini. Tidak salah jika novel ini menerima nyaris empat bintang pada Goodreads (uhuk, aku memberi tiga). Salah satu contohnya ialah bagian Rizki, Ryan, Lena, dan Dania memutuskan untuk membuat film pendek dari rekaman-rekaman Dion (Hal 176-178). Memanfaatkan sesuatu yang tidak diduga-duga untuk meminta maaf, sekaligus untuk diajukan kompetisi film pendek di festival film. Menurutku, bagian ini secara tidak langsung berusaha memperlihatkan, dalam keadaan segenting apapun, masalah sebesar apapun, selama masih mau berusaha dan percaya jika harapan itu ada, maka akan ada jalan keluar.

Untukku, novel ini memiliki ide yang cukup keren dan remaja sekali. Beberapa narasinya pun tampak menggiurkan untuk dikutip lalu di-share di akun-akun sosial media (Hayooo, siapa yang sering melakukan ini? :-p). Setiap tokoh tampil dengan baik dan memiliki porsi yang pas. Juga selipan audisi untuk pemeran utama film pendek yang diikuti pasangan-pasangan kembar unik, yang kemudian secara mutlak terpilih pasangan kembar Eva-Evi sebagai pemeran utama (Hmm, penulisnya bisa aja milih cara mengeksiskan diri dalam karyanya hehehe). Salah satu quotes yang kusuka dari sekian banyak kalimat-kalimat apik di dalam novel ini ialah “Hujan adalah musik alam paling merdu, paling sunyi. Ketajamannya melukai setiap inci memori (Hal 262).” Sederhana, tetapi mengena. Dari segi penulisan, aku tidak bisa berkomentar banyak karena menurutku sebagai penikmat novel-novel romantis, nona Evi sudah menceritakan kisah ini dengan apik.

Sayangnya, ada beberapa bagian yang cukup janggal buatku. Tentang bunker rahasia di sekolah, tentang hubungan Adit dan Lena yang kelihatannya terlalu bermain perasaan untuk ukuran anak SMP (bener gak? Atau aku yang salah mengartikan?), tentang penggunanan panggilan Tuan Puteri dan Pangeran Kodok yang uhuk-uhuk, tentang Rizki dan Lena yang bersantai di kolam renang sekolah padahal semula mereka pergi mencari Dion yang hilang, tentang Dion yang tiba-tiba muncul di acara puncak festival film, lalu epilog yang kurang mengena. Meski begitu, hal-hal ini tidak terlalu mengganggu keseluruhan cerita novel ini.

Secara keseluruhan, aku suka novel ini karena mengangkat dunia perfilman yang jarang ditemui di buku-buku fiksi Indonesia. Ini menurut pendapat pribadiku, lho. Selain buku ini dan Montase, aku belum menemukan ide dasar kisah yang berkisar tentang dunia perfilman. Buku ini memberi pengalaman baru untukku dan mungkin sebagian besar pembaca lain. Meski kesannya ringan dan remaja sekali, buku ini secara tak langsung ingin menyampaikan pesan yang amat mendalam. Mengenai usaha yang tak kenal lelah untuk mewujudkan mimpi meski ada beragam halangan, juga sedikit sentilan tentang anak ADHD yang dengan keterbatasannya tetapi mampu untuk berkarya dan berteman secara normal seperti remaja lainnya.

Untuk novel ini, aku memberi 3 dari 5 bintang. 😉

(Untuk nona Evi karena sudah bermurah hati menghadiahi buku ini untukku, dan juga untuk Kopi Sinshaen, buku ini benar-benar menjadi penyemangat untukku, terima kasih banyak!)

250x250 - Noura Books flash_banner_cineus

Iklan

2 pemikiran pada “Review Novel CineUs

Komentar ditutup.