Belajar Hidup dan Kehidupan dari Abul Anak Cempaka

20140903_095837

Judul:                          Galuh Hati

Penulis:                        Randu

Penyunting:                 Sapuroh

Penyelaras Akhir:        Faisal Adhimas

Penata letak:                Erina Puspitasari

Desainer sampul:         Oxta Estrada

Penerbit:                      Moka Media

Terbit:                          Februari 2014

Tebal:                          294 hlm.

ISBN:                          979-795-816-7

Harga:                         Rp. 55.000,-

 

Aku memiliki rahasia. Kau memiliki rahasia. Bahkan langit pun memiliki rahasia. Kau tahu Senja Kuning di langit Cempaka sore itu? Dia menyimpan rahasia tentangku, tentang sebuah Galuh Hati. Aku adalah satu-satunya riwayat tua yang diperbincangkan di rumah para pendulang intan di Cempaka. Kekuatan dan keindahanku selalu menjadi teka-teki yang diturunkan hingga ke anak-cucu mereka. Namun, tahukah kau bahwa di balik gemerlap cahaya yang aku pancarkan ada rahasia tentang persahabatan, cinta, dan sebuah pengkhianatan?

**

Banyak sekali hal baru yang kudapatkan dari novel ini. Bukan sekadar cerita yang meninggalkan kesan yang mendalam. Namun, juga pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat di sebuah desa kecil di Kalimantan, cerita penemuan sebuah intan legendaris, Galuh Hati, serta teknik bercerita yang baik. Kisah di dalam novel ini bisa kusimpulkan sebagai cerita di dalma cerita, atau cerita berlapis. Dimulai dari cerita Abul yang menceritakan kisahnya masa kecilnya pada siswanya, dan di dalam kisah itu, ada kisah lain tentang cerita cinta segitiga antara Kai Amak, Antas, dan Sarah. Sesuai dengan judulnya, Galuh Hati, bongkah intan berbentuk hati yang dikenal hanya sekadar mitos, memiliki peranan yang amat penting dalam cerita ini. Selain itu, kelebihan lain dari novel ini ialah kalimat yang quoteable. Sebagai contoh:

“…Untuk menaklukkan wanita pertama kali kau harus mengenalnya. (hlm. 51).”

“…Jangan protes dengan keterbatasan orang tuamu kepadamu. Mungkin itu semua yang terbaik punya mereka. (hlm. 132).”

“…Sok tahu itu adalah adalah kau tidak tahu tapi berlagak seakan-akan kau tahu. (hlm. 150).”

Sayangnya, kearifan lokal yang disuguhkan dalam novel ini tidak diiringi dengan kesempurnaan penulisan. Beberapa kali kudapati typo yang sebetulnya tidak terlalu mengganggu tetapi mengurangi kesempurnaan buku ini. Antas Sarah –Hal. 60, seharusnya sebelum kata “Sarah” ada tanda koma. Salah satunya ialah ‘Memagang pada halaman 185, seharusnya mungkin memegang, bukan mamagang.

Secara keseluruhan, novel ini layak untuk diburu karena menyuguhkan sesuatu yang baru dan tidak umum hadir di novel-novel sejenis. Aku memberi novel ini tiga setengah dari lima bintang, dua untuk kearifan lokalnya, satu setengah untuk gaya penceritaan yang baik dan menggelitik keingintahuan pembaca.

“…Jika kau ingin memikirkan sesuatu, pikirkanlah ini: kau tidak akan pernah menjadi seorang pecinta yang baik dengan mengorbankan seseorang.” (Randu, 2014:65)

Iklan