Memaknai Senja Selamanya dari Zora dan Dinda

20140903_095837

Judul:                          Forever Sunset

Penulis:                        Stanley Meulen

Penyunting:                 Faisal Adhimas

Penyelaras Akhir:        Sapuroh

Penata letak:                Tri Indah Marty

Desainer sampul:         Larung

Penerbit:                      Moka Media

Terbit:                          2014

Tebal:                          372 hlm.

ISBN:                          979-795-804-3

Harga:                         Rp. 58.000,-

 

Apa jadinya jika dua buah benda angkasa bertemeu dan bertabrakan? Dan, bagaimana jadinya jika dua buah mobil bertubrukan? Kerusakan!

Itu jawabannya. Tapi, apa yang terjadi jikayang bertabrakan adalah dua pasang mata dari seorang lelaki dan perempuan? Jatuh cinta.

Dinda adalah pusat dari semesta bagi Zora. Mereka adalah Galaksi Bima Sakti yang memuat cinta berdua.

Pada senja yang menggaris nama mereka di langit, sebenarnya mereka tidak pernah menyatu. Cinta yang tidak pernah sempurna saat kesedihan memisahkan mereka.

Pada senja yang selalu menunggu cinta, apakah mereka akan benar-benar bersatu?

Sesungguhnya, senja yang selamanya menyatukan mereka adalah pengharapan yang tak pernah ada habis-habisnya: sebuah cinta sejati.

**

Hubungan LDR antara Dinda dan Zoya—dua tokoh utama—yang berjalan lancar, harus pupus di tengah jalan karena orangtua Dinda menentang hubungan mereka dan menginginkan anaknya menikahi pria lain yang memiliki bibit, bebet, bobot yang setara dengan keluarga mereka.Apa pendapatmu tentang simpulan singkat dari novel berjudul Forever Sunset di atas? Sinetron? Tidak juga. Kisah drama yang disuguhkan oleh Stanley Meulen dalam novelnya kali ini menurutku bisa menguras air mata meski ide cerita yang digunakan sudah pasaran. Namun, kisah cinta beda kelas sosial yang penuh drama dan konflik ini bisa menjadi lebih menarik jika diceritakan dengan cara bertutur yang lebih baik. Karena gaya penceritaannya, secara keseluruhan kisah di dalam novel ini menjadi kurang menguras emosi.

Meski begitu, ada beberapa kelebihan yang menurutku masih bisa membuat novel ini terselamatkan. Antara lain ialah beberapa latar yang digunakan sangat membantu beberapa orang sepertiku, yang berpikir ulang seribu kali untuk menggunakan uang tabungan untuk liburan ke Bali-Lombok, untuk mengenal daerah itu. Stanley begitu andal menggambarkan Bali dan Lombok dalam narasinya, membuat pembaca sepertiku bisa merasa seolah berada di sana. Pun keteguhan Zora yang memilih untuk menjaga perasaannya pada Dinda meski sudah tersakiti, mengajarkan bahwa kekuatan memaafkan itu laksana air, mampu mengikis dengki dan amarah yang selayaknya karang. Filosofi matahari terbenamnya yang menarik, sesuai dengan judul, membuat novel ini kuberi dua setengah bintang. Tidak buruk, tetapi belum menghadirkan kesan yang membekas.

“…Tidak ada yang salah kalau kau tetap menjaga hatimu untuk dia. Karena suatu hari nanti, cinta yang tersimpan di hatimu itu akan ada yang mencarinya. Suatu hari nanti, si pemilik asli dari hatimu akan datang mengambilnya. Karena dia tahu, cinta miliknya sedang tersimpan di hatimu.” (Meulen, 2014:227)

Iklan