Resensi – Memori

02

Judul: Memori; Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis: Windry Ramadhina
Editor: eNHa
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 979-780-562-x
Cetakan pertama, 2012

Tebal Buku: 301 halaman
Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

Astaga…

Sumpah, sampai sekarang saya kehilangan kata-kata. Kisah yang baru saja saya selesaikan perlahan menarik dirinya, meninggalkan saya dengan kekaguman yang membekas dalam.

Saya suka sekali dengan POV orang pertama yang dipakai Mbak Windry. Benar-benar sukses memicu emosi saat menyesap lembar demi lembar kisah dari Mahoni. Saya sangat menyukai bagaimana kenangan lama yang dibenamkan dalam-dalam di memori oleh Mahoni, satu demi satu menguap dan merubah segalanya. Segalanya.

Mbak Windry sukses menciptakan Mahoni dengan egonya yang tinggi, Sigi dengan kepolosan remajanya, Simon dengan sikap dingin dan pencemoohnya, dan tentu saja, si Ratu-Drama, Mae.

Kekurangan buku ini mungkin terletak pada cover yang kurang meyakinkan karena porselen dengan lukisan rumah tuanya yang sangat-sangat-sangat vintage. Tapi, setelah memahami jalan cerita, saya rasa cover rasa vintage ini bukanlah suatu yang layak untuk dicela karena cover ini memang mewakili isi cerita yang hangat dan memikat dengan caranya tersendiri.

Setelah menyelesaikan Montase dan Memori ini, saya semakin yakin jika Mbak Windry adalah ‘guru’ saya yang baru. Berharap bisa belajar dan menyerap ilmunya untuk melatih diri saya sendiri dalam menulis fiksi yang berbobot dan mampu mengaduk-aduk emosi seperti karya-karya Mbak Windry.

😉

*telah di-puplish di akun Goodreads pribadiku, tetapi karena satu dan lain hal kuputuskan untuk republish di blog ini*

Iklan

Satu pemikiran pada “Resensi – Memori

Komentar ditutup.