AROMA IRAMA RASA YANG MEMIKAT DARI KISAH DUYUNG MODERN

Judul               : Mermaid Fountain

Penulis            : Dyah Rinni

Penerbit           : Indie (via Writerprenour Club)

Genre              : Fiksi, Romance

Kategori           : Young Adult, Fairy Tale, Retelling, Kuliner

Tahun Terbit    : Mei 2016

Tebal               : 228 halaman

Harga              : 59.000 rupiah

Blurb:
Konon kabarnya air mancur itu membawa keajaiban.
Mairin Malya, seorang chef. Ia memperjuangkan segalanya demi mimpi membangun restoran seafood. Hingga suatu saat, tragedi datang dan meremukkan semua harapannya. Satu-satunya jalan untuk terus menjaga mimpinya adalah dengan berdusta.
Laguna Senna, seorang penyanyi bersuara emas. Seumur hidup ia berjuang untuk ketenaran dan kekayaan. Hingga suatu hari, dunianya yang rapuh terancam runtuh.
Mereka bertemu di depan air mancur Putri Duyung. Bersama-sama, mereka melemparkan koin. Bersama-sama, mereka berharap agar impian mereka tercapai.
Dan kemudian keajaiban terjadi. Tapi, tidak dengan cara yang mereka inginkan.
Takdir memutarbalikkan dunia keduanya, membawa mereka ke arah yang tak terduga: musuh, masalah, dan juga, cinta.
Akankah pada akhirnya mereka menemukan kebahagiaan yang mereka cari? Ataukah mereka akan hancur menjadi buih seperti dongeng sang Putri Duyung?
Namun, untuk setiap permintaan ada pengorbanan yang harus dibuat.

PERTEMUAN pertama mereka terjadi di apartemen milik Laguna Senna. Gadis berpenampilan aneh dengan rambut ber-highlight warna-warni itu datang sebagai chef yang disyaratkan Vivian, mantan pacar sekaligus calon pasangan duet yang dikehendaki Laguna. Mendatangkan Mairin padahal dirinya membenci seafood tetap dilakukan oleh Laguna demi memenangkan persaingan dari Jay, si pendatang baru yang tengil.

Dalam keadaan biasa, Mairin tidak akan terlalu cemas menghadapi undangan spesial untuk memasakkan seafood kesukaan Vivian yang memang pelanggan tetap restoran milik ayahnya—dan sering mencicipi kreasi Mairin yang di luar menu restoran. Sejak kepalanya dihantam dengan bata oleh perampok yang menyambangi restoran Putri Duyung miliknya, Mairin kehilangan kemampuan penciuman dan perasanya. Anosmia, terang dokter yang menanganinya kala itu.

Tanpa tahu kejelasan kapan kemampuannya kembali seperti sedia kala, Mairin terus menjalankan Putri Duyung tanpa mengungkapkan keadaan dirinya pada Bara—sepupu sekaligus manajer restorannya. Tidak mau menambah cemas Bara yang sudah sibuk memikirkan cara untuk mempertahankan Putri Duyung agar tetap beroperasional.

Pertemuan kedua mereka terjadi di depan Mermaid Fountain, sebuah air mancur yang katanya ‘ajaib’, mampu mengabulkan permintaan selama koin atau benda berharga lain yang dilemparkan benar-benar masuk tepat ke bagian tengah air mancur, bukannya menggelinding ke luar. Setelah berdebat tentang keberadaan masing-masing di sana, dua orang yang sama sekali tidak percaya keajaiban air mancur itu lantas melempar koin dan merapal pengharapan dalam hati masing-masing.

Apa yang terjadi?

Mairin tak juga mendapatkan indra penciuman dan perasanya kembali, Laguna ternyata kehilangan suara merdunya padahal Vivian sudah setuju untuk duet mereka berdua. Akankah posisinya direbut oleh Jay? Benarkah Mairin adalah ‘penyihir’ yang menyambangi mimpi-mimpi Laguna dan merampas suara indahnya? Kenapa pula lelaki itu lalu memutuskan untuk berada di sisi Mairin dan bekerja menjadi pelayan—seperti masa lalunya—di Putri Duyung?

Retelling dari kisah dongeng Little Mermaid ini adalah proyek dari salah satu penerbit yang tidak diteruskan. Dyah Rinni selaku penulis lantas mengambil langkah untuk menerbitkannya sendiri di jalur Indie. Apresiasi besar untuk keberanian penulis untuk mengambil langkah demikian.

Banyak kelebihan yang ditawarkan dari cerita antara Laguna dan Mairin, salah satunya adalah perkembangan diri tokoh yang terjadi seiring jalannya cerita tanpa terkesan dipaksakan. Setelah berbagai hal yang dialami oleh keduanya, interaksi yang terjadi pun cukup manis.

Ditambah lagi deskripsi tentang masakan yang benar-benar menggugah selera, kerepotan yang terjadi di sebuah restoran, dan kesibukan luar biasa di dunia keartisan tertampil dengan baik dan sukses membantah anggapan jika pekerjaan para tokoh dalam novel ini sekadar tempelan. Selain itu, banyak kalimat-kalimat quotable yang menarik sepanjang cerita.

“Mungkin kau harus jatuh cinta, wahai penyihir. Maka kau akan tahu bahwa semua rasa sakit tidak sebanding dengan perasaanku.” – 61

“Ikan tidak ditakdirkan untuk memanjat.” – 117

“Mungkin tukang sihir itu aslinya juga seorang putri. Hanya saja dunia tidak pernah tahu.” – 137

Novel Mermaid Fountain ini mengedapankan unsur perjuangan mempertahankan apa yang telah dimiliki meski sulit, tentang bagaimana caranya belajar dari kesalahan. Dyah Rinni berhasil mengemasnya dengan baik. Konflik yang disuguhkan cukup menarik dengan gaya tulisan yang mudah dipahami oleh kalangan dewasa muda. Yang disayangkan adalah salah satu adegan menuju akhir cerita dalam novel ini, yang rasanya akan lebih baik jika Laguna tidak perlu menggalami hal itu. (nggak mau spoiler!)

Novel setebal 228 halaman ini, mengajarkan kita untuk saling menjaga dan menghargai apa yang ada dalam genggaman, juga pengorbanan untuk setiap pencapaian besar. Tentang aroma, irama, juga rasa yang menggugah selera. Retelling dongeng putri duyung legendaris menjadi cerita yang cukup manis.  Jika ingin membaca dongeng Little Mermaid dalam versi berbeda dan menarik, tidak salah jika coba membaca novel ini.

Karena Mermaid Fountain itu diterbitkan secara indie, kalian bisa mendapatkannya dengan ikut Pre Order di bawah ini! Kalau penasaran, bisa juga intip website bukunya dan baca sampel 30 halaman awal di http://mermaid.dyahrinni.com/

Atau jika kalian mau coba-coba adu nasib dan keberuntungan? Ada kesempatan untuk ikutan dalam serangkaian blogtour Mermaid Fountain berikut ini. Sila intip dan hapalkan jadwalnya.
Iklan

Satu pemikiran pada “AROMA IRAMA RASA YANG MEMIKAT DARI KISAH DUYUNG MODERN

Komentar ditutup.