[Blog Tour] Ask Author dan Giveaway Mermaid Fountain

Halo! Sudah baca resensi Mermaid Fountain yang kuposting beberapa hari yang lalu, kan?Itu artinya kalian sudah siap buat Blogtour dan Give away novel kece ini, dong. He-he

Berdasarkan diskusi bersama-sama, Blogtour dan Giveaway novel Mermaid Fountain kali ini akan ada tiga macam acara. Aku memilih untuk menjadi host bagian Ask Author bersama Lala. Karena nggak pandai berbasa-basi, jadi sila dibaca tanya jawabku tentang proses kreatif dan penulisan novel Mermaid Fountain dengan penulisnya, Dyah Rinni.

  1. Seperti yang pernah Mbak Dyah ceritakan, Mermaid Fountain ini ditulis untuk salah satu penerbit dan pemilihan dongengnya melalui vote di facebook. Selain itu adakah hal lain yang melatar belakangi pemilihan dongeng Little Mermaid ini untuk disampaikan kembali dalam bentuk yang berbeda?

Waktu itu aku ingin mencari dongeng yang sudah dikenal orang banyak dan juga punya banyak sisi menarik untuk diceritakan. Menurutku, banyak orang yang sudah kenal Little Mermaid, jadi kalau aku menceritakannya kembali, orang bakal lebih mudah menerimanya. Penerimaan itu penting. Karena kalau ceritanya bagus tetapi orang tidak mengenal dongengnya, mungkin butuh waktu lebih lama untuk menerimanya. Selain itu, cerita Little Mermaid itu menarik. Sang putri duyung berjuang untuk mendapatkan cinta pangeran dari dunia lain dan dia harus mengorbankan hal yang paling penting bagi dia. Buatku, sang putri duyung mengajarkan bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berkorban.

  1. Proses penggarapannya memakan waktu berapa lama? Dari rembukan ide awal dengan penerbit, perancangan plotting/outline, penentuan karakterisasi, sampai penulisan draf awal? Kalau boleh diceritakan sedikit perjalanannya ya Mbak πŸ˜‰

Sebenarnya proses penulisannya lumayan cepat dan lancar. Kalau nggak salah, aku ketemu editornya langsung itu akhir bulan Oktober. Saat itu yang diminta hanya sebuah cerita romantis berdasarkan dongeng terkenal. Aku lupa apakah ketentuan ada fantasinya berasal dari aku atau dari editor, tetapi kemudian aku diberi tahu bahwa unsur fantasinya jangan banyak-banyak. Nggak lama kemudian (mungkin hanya seminggu atau dua minggu), aku mengajukan outline-nya. Outline itu disetujui dengan beberapa koreksi dan kemudian aku langsung mengerjakannya. Draft pertama selesai sekitar bulan Februari. Jadi proses penulisannya sebenarnya gak terlalu lama. Hanya proses menjadi bukunya yangΒ  harus menunggu sampai dua tahun.

  1. Penasaran nih sama opini mbak dyah soal pendapat dari salah seorang penulis yang bilang bahwa tokoh adalah penggerak jalannya cerita, pemicu konflik, penentu akhir kisahnya mau dibawa ke mana. Setuju atau nggak setuju?

Tokoh memang berperan sebagai penggerak jalannya cerita. Itu karena tokoh adalah perwujudan dari ide yang disampaikan oleh penulis. Kalau tokoh utama tidak sesuai dengan ide yang ingin disampaikan oleh penulis, nanti pesannya gagal tersampaikan.Β  Tokoh utama memang lebih bagus sebagai pemicu konflik, tetapi tidak selamanya harus begitu. Tergantung situasi di dalam cerita dan ide yang mau dibangun oleh penulis. Kalau di dalam Mermaid Fountain, masalah Mairin dan Laguna memang diakibatkan oleh keputusan mereka sendiri. Seandainya Mairin tidak kembali ke restorannya malam itu. Seandainya saja Laguna tidak melemparkan koin ke dalam kolam…

  1. Kalau menulis, mbak suka menulis dengan patokan plotting/outline yang lengkap dan mendetail atau justru cuma bermodal gambaran besar dari jalan cerita dan menuliskannya dengan begitu saja alias mengalir?

Aku pernah menulis mengikuti apa yang keluar dari otak begitu saja. Tapi akhirnya, hampir sepertiga draft novel harus aku buang karena nggak nyambung dengan ide awal. Melenceng ke mana-mana, tapi nggak jadi lebih baik. Akhirnya sekarang, aku lebih suka plotting lengkap..Plotting memang membutuhkan waktu yang lebih lama. Bisa beberapa hari kuhabiskan hanya untuk memikirkan outline. Tetapi hasilnya, kalau pun ada perubahan, nggak sebanyak model pertama. Dan perubahan itu biasanya menguatkan konsep yang sudah ada.

  1. Berbicara tentang proses kreatif, mbak punya tips nggak untuk beberapa pembaca yang juga hobi menulis, tentang mengawinkan pekerjaan tokoh dan sekaligus latar agar nggak sekadar tempelan aja?

Untuk penokohan, banyak-banyaklah perhatikan orang di sekitar kamu. Saat kamu ke restoran atau naik angkot, dengarkan pembicaraan orang. Bagaimana gaya mereka ngobrol? Kira-kira tipe manusia seperti apa mereka? Kamu juga bisa belajar dari karakter film. Karakter seperti apa yang dikenang orang? Karakter seperti apa yang lemah dan dibenci orang? Kamu juga bisa belajar psikologi. Carilah buku psikologi yang membicarakan masalah tipe kepribadian. Itu sangat membantu saya dalam menentukan karakter kedua tokoh utama saya.

Kalau untuk latar, banyak-banyaklah jalan-jalan ke tempat baru. Kamu memang bisa googling, tapi latar baru benar-benar hidup kalau kamu benar-benar ke sana. Karena hanya dengan ada di sana kamu bisa mencium atmosfer dan mendengarkan musik kehidupan di sana. Itu satu hal yang nggak ada di internet.

Kalau untuk menggabungkan keduanya, tentu saja antara karakter dengan latar harus menyambung. Kalau setting-nya di luar negeri, karakter perlu ngomong dengan dialog lokal. Tetapi kalau di Indonesia, bisa dilihat dari setting lokalnya dan seperti apa karakternya. Mungkin kalau settingnya sudah kota, bahasa daerahnya tidak terlalu kental.

  1. Setelah beragam jenis karya yang pernah mbak hasilkan, selanjutnya proyek apa lagi yang akan dituliskan? Adakah kepikiran untuk menulis novel romansa dengan bentuk dwilogi/trilogy/tetralogi, kayak misalnya Serial Musim Ilana Tan?

Untuk sementara ini aku berencana membuat dua novel berikutnya yang masih berdasarkan dongeng. Satu dongeng lokal untuk remaja dan satunya lagi dongeng luar negeri sebagai seri kedua fairy tale romance series ini. Ada juga rencana menyelesaikan novel epic fantasy dengan nuansa steampunk di dalamnya. Aku akan mengambil era 1800-an di Indonesia, jadi akan ada suasana saat itu yang aku ambil, tapi tetap jatuhnya ke fantasi, bukan sejarah.Β  Aku belum tahu apakah novel fantasi ini akan jadi satu atau dua buku karena masih menimbang materi dan respon pembaca juga.

  1. Mengingat perjalanan panjang mbak dyah di dunia kepenulisan, bahkan pernah menjadi editor yang membimbing para penulis dalam proses lahiran karya mereka, adakah niat untuk menjadi guru/mentor menulis ataupun proses kreatif dari satu atau beberapa (calon) penulis yang tertarik berkarya tapi belum kesampaian? *semoga jawabannya iya* *siap siap mendaftar*

Aku pernah mengisi workshop kepenulisan beberapa kali seperti workshop kepenulisan Mizan dan JNE. Memang akhir-akhir ini tidak terlalu aktif lagi karena kesibukan menulis. Tetapi kalau waktu dan tawarannya pas, kenapa tidak?

Itulah sedikit tanya jawab yang kulakukan bersama Mbak Dyah Rinni. Semakin penasaran nggak baca novelnya? Hehe. Nah buat yang mau baca, silakan ikutan Pre Order. Masih dibuka kok. Bisa lihat diΒ sini.

Atau…

Ikutan GIVEAWAY! Simak syaratnya berikut:

  1. Follow @deetopia dan @0ktabri (dengan nol bukan huruf o)
  2. Follow BLOG ini melalui akun kalian. Cari aja di sebelah kiriΒ postingan ini.
  3. Bagikan Giveaway ini di akun media sosial kalian dengan menggunakan tagar #MermaidFountain dan ajak teman-teman terdekat kalian untuk ikutan Giveaway ini juga.
  4. Giveaway ini berlangsung selama satu minggu dari tanggal 13 Mei 2016 – 20 Mei 2016.
  5. Pengumuman pemenang akan dilakukan paling lambat seminggu setelah penutupan giveaway ini.

Caranya?

Berikan pertanyaan terkeren atau yang benar-benar mengganjal di pikiran kalian tentang proses kreatif dan penulisan pada Mbak Dyah Rinni. Yup! kalian yang memberikan pertanyaan dan Mbak Dyah yang akan menjawab. Mudah, kan?

Formatnya: Nama | Domisili | Akun twitter | email | link share giveaway ini di media sosial kalian | pertanyaan

Ada SATU BUKU Mermaid Fountain dari kak Dyah Rinni buat SEORANG PEMBERI PERTANYAAN TERBAIK. Pemenang ini MURNI dipilih berdasarkan terpenuhinya syarat dan tentu saja pertanyaan keren yang kalian yang diberikan pada Mbak Dyah Rinni. Ingat, pertanyaannya harus tetap seputar proses kreatif dan penulisan ya! Selamat berjuang!

Iklan

28 pemikiran pada “[Blog Tour] Ask Author dan Giveaway Mermaid Fountain

  1. Rini Cipta Rahayu
    Karangasem, Bali
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com
    https://twitter.com/RiniCipta/status/733668542776807424

    Aku penasaran banget, darimana awal ide tentang Anosmia, mbak? Serius, istilah ini baru pertama kali aku dengar dan baru tau juga kalau ada kelainan seperti ini. Untuk risetnya apakah susah? Meskipun dibahas sekilas di 30 halaman pertama yang aku baca, tapi kelainan ini mempengaruhi keseluruhan cerita.. Kasi tips dong mbak tentang riset ‘printilan’ kecil yang bisa membuat naskah kita lebih kaya, tapi nggak sekedar tempelan. Terima kasih πŸ™‚

  2. Miftahur Rizqi | Banyuwangi | @MR_Laros | miftahurrizqi2@gmail.com | https://twitter.com/MR_Laros/status/733480707822129156

    pertanyaan :

    cerita dikit dong mbak Dyah, kok bisa menciptakan novel Mermaid Fountain ini, inspirasinya dari mana ? awal mula bisa buat novel ini bagaimana sih?
    *siapa tau nanti aku bisa ambil inspirasi mbak dalam penulisan novel Mermaid Fontain ini. hehe πŸ™‚
    eh, satu lagi nih pertanyaan yg mengganjal di pikiran serta hatiku nih. !
    menurut mbak Dyah, apa sih kelebihan novel Mermaid Fountain ini, sehingga pembaca wajib baca novel ini?

    itu aja deh pertanyaan buat penulis yg kece ini. hehe πŸ˜€

    terima kasih kak Obrier udah bikin Giveaway yg menurutku gampang. πŸ™‚

  3. Sari Rahmawati | Bogor | rie_bundaAzka | milanesta.rahmawati@gmail.com |

    Mba Dyah, selama ini dongeng2 klasik sudah bisa ditebak ending ceritanya akan seperti apa. Sebagian besar selalu berakhir bahagia, seorang puteri akhirnya bisa bersanding dengan pangeran tampan impiannya, ataupun sebaliknya. Dongeng2 klasik selalu penuh romansa dengan alur cerita yang penuh pengorbanan dan perjuangan panjang untuk mendapatkan cinta sejati. Layaknya istilah dalam dongeng, kebaikan selalu menang dan dikenang. Untuk Mba Dyah sendiri apakah dalam menulis dongeng selalu memberi akhir yang bahagia, sebagaimana dongeng2 yang sudah tidak asing seperti cinderella, Putri Salju dan lainnya? Atau Mba Dyah tertarik memberi warna baru dalam sebuah dongeng dengan menghadirkan ending yang mampu membuat pembaca ikut menitikkan air mata?

    *maaf kalo komentnya nanti muncul 2x, pakai account twitter dari kemarin saya masukkin koment gak mau muncul

  4. Insan Gumelar Ciptaning Gusti | Jember | @san_fairydevil | alamadt_saya@yahoo.com | https://twitter.com/san_fairydevil/status/733231321418334208 |

    Pertanyaan:
    1. Pernah enggak mbak Dyah membuat tokoh karena terlalu suka dengan suatu karakter di dalam film? Jadi sifat, tingkah, kelakuan.
    2. Biasanya pengendapan setelah selesai nulis itu berapa lama sampai dibaca ulang (self editing)?
    3. Kan ada tuh film berbie tentang marmaid, terus film barat tentang marmaid, susah enggak seh membuat cerita yang ngambil dari dongeng gitu? Kan takutnya kayak kebawa suasana cerita dongengnya.
    4. Yang ini mau curcol sedikit ya πŸ˜€ Aku kadang nulis cerita lompat-lompat. Masa sekarang, terus ke masalalu, terus balik, ntar ada bagian flashback lagi buat menceritakan sebuah alasan. Nah terus waktu ngelihat halaman kok udah panjang banget. Gimana cara nambahin penjelasan, tapi enggak terkesan bertele-tele. Tapi juga enggak langsung to-the-point?

    Makasih.

  5. Sari Rahmawati | Bogor | rie_bundaAzka | milanesta.rahmawati@gmail.com |

    Mba Dyah, selama ini dongeng2 klasik sudah bisa ditebak ending ceritanya akan seperti apa. Sebagian besar selalu berakhir bahagia, seorang puteri akhirnya bisa bersanding dengan pangeran tampan impiannya, ataupun sebaliknya. Dongeng2 klasik selalu penuh romansa dengan alur cerita yang penuh pengorbanan dan perjuangan panjang untuk mendapatkan cinta sejati. Layaknya istilah dalam dongeng, kebaikan selalu menang dan dikenang. Untuk Mba Dyah sendiri apakah dalam menulis dongeng selalu memberi akhir yang bahagia, sebagaimana dongeng2 yang sudah tidak asing seperti cinderella, Putri Salju dan lainnya? Atau Mba Dyah tertarik memberi warna baru dalam sebuah dongeng dengan menghadirkan ending yang mampu membuat pembaca ikut menitikkan air mata?

  6. Rohimah Muthmainnah. | Bekasi | @Ina_ELFINA10 | inaainaa03@gmail.com | https://twitter.com/Ina_ELFINA10/status/733129723832733696 |

    Pertanyaan :
    1, apasih yang membuat mba pengen jadi seorang penulis ? motivasi apa yang membuat mba jadi suka nulis ?
    2. Pernahkah mba disaat benar2 ingin menjadi seorang penulis, ada yang menentang keinginan mba ?
    3. dan yg terakhir, apa harapan mba terhadap tingkat minat baca masyarakat Indonesia yg rendah ?

    Terima Kasih

  7. Nama : rohimah Muthmainnah
    Domisili : Bekasi
    Akun twitter : @Ina_ELFINA10
    email : inaainaa03@gmail.com
    link share : https://twitter.com/Ina_ELFINA10/status/733129723832733696

    Pertanyaan :
    1. apa sih alasan mba Dyah mau menjadi seorang penulis ? motivasi apa yang membuat mba menjadi suka menulis buku ?
    2. Pernahkah mba ketika benar2 ingin menjadi seorang penulis adakah yg menentang keinginan mba ?
    3. dan yang terakhir, apa harapan mba, sebagai penulis terhadap tingkat minat baca masyarakat Indonesia yang rendah ?

    Terima Kasih πŸ™‚

  8. Nama : Ika Suchi Febriyanti
    Domisili : Lampung
    Twitter : @ISFebriyanti
    Email : ikafebong@gmail.com
    Link : http://m.twitter.com/ISFebriyanti/status/733125722311643136?p=v

    1. Kenapa kakak memberi judulnya Mermaid Fountain, imajinasinya dari mana kak?
    2. Berapa lama menyelesaikan Mermaid Fountain?
    3. Dalam mengerjakan Mermaid Fountain, pernah ngerasa lupa kelanjutannya gimana gak? Pada bagian mana?
    4. Apa perasaan kakak Mermaid Fountain terbit?

    Terimakasih, kak.

  9. Shelly Fw | Bandung | @shelly_fw | lovatangerine@gmail.com | https://twitter.com/shelly_fw/status/732978383529725953 | Pertanyaan: 1.Menurut kak Dyah, apakah novel yang bagus itu harus memiliki cerita yang memuaskan pembaca? Soalnya saya sebagai penulis amatir masih bingung kalau menulis. Apakah menulis cerita (mulai tokoh, konflik, sampai ending) yang kira-kira akan disukai pembaca saja atau bagaimana ya kak?
    2. Nama Mairin dan Laguna sangat unik. Terinspirasi dari mana kedua nama itu, kak?
    3. Apa motivasi utama kakak dalam menulis novel Mermaid Fountain?

    Terima kasih πŸ™‚

  10. Aya Murning | Palembang | @murniaya | ayamurning@gmail.com

    sebagai seorang penulis, menurut Mbak Dyah genre atau buku jenis apa sih yang paling susah untuk dibuat bagi Mbak sendiri? Apakah itu didasari oleh bidang yang dikuasai dan selera yang tidak matching dengan tema buku, atau ada alasan lain? Pernahkah Mbak Dyah nulis sebuah buku tapi stuck-nya ampun-ampunan di tengah jalan dan nggak bisa finish nulis kata tamat? Kalau bisa tamat semua, apa rahasianya buat melewati masa-masa sulit itu, Mbak? Terima kasih. πŸ™‚

    • Hai Nurul, selamat pertanyaan kamu terpilih menjadi pertanyaan terbaik dan akan mendapatkan jawaban beserta satu buah novel Mermaid Fountain! Aku harap untuk segera mengirimkan nama dan alamat lengkap beserta nomer telepon yang bisa dihubungi ke dm twitterku. Usahakan secepatnya ya biar bisa langsung kuteruskan pada mbak Dyah.

      Berikut jawaban yang diberikan oleh mbak Dyah untuk pertanyaanmu:

      1. Selama pengerjaan Mermaid Fountain, alhamdulillah aku nggak pernah jenuh atau stuck. Itu karena semuanya sudah aku rencanakan dari awal. Jadi aku selalu tahu adegan apa yang harus aku tulis. Aku juga menyukai semua karakter yang ada di dalam novelku. Bukan hanya Laguna atau Mairin saja, tetapi semuanya, termasuk karakter lain yang tengil ^_^. Aku merasa semua karakter memiliki cerita masing-masing, hanya saja yang paling menarik adalah Laguna dan Mairin. Karena aku menikmati berinteraksi dengan mereka, aku nggak merasa bosan. Jadi, kalau ditanya bagaimana supaya nggak bosan atau stuck, jawabannya adalah: miliki gambaran besar novelnya. Jadi, walau kamu stuck, kamu tahu cara keluar dari masalah itu. Dan juga, buat beragam karakter di dalam novelmu yang asyik. Jadi, kamu senang berada di dalam dunia itu.

      2. Saat paling berkesan adalah pengerjaannya yang ngebut. Karena waktu itu aku kerja full time, waktu menulisku benar-benar terbatas. Jadinya, aku benar-benar mendisiplinkan diri untuk menulis setelah makan malam sampai hampir tengah malam dan bangun sebelum subuh untuk nulis. Dengan cara itu, aku bisa menyelesaikan novel dalam waktu tiga bulan. Mengingat aku menulis dalam waktu yang terbatas, aku rasa itu prestasi tersendiri buatku. πŸ™‚

      Sekali lagi selamat! πŸ™‚

  11. Nama : Eny
    Domisili : jogja
    Akun twitter : @Enythxz
    email : enytok03@gmail.com
    link share : https://mobile.twitter.com/Enythxz/status/732361662993301505?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C3901321941

    pertanyaan :
    1. Mbak Dyah Rinni saya mau tanya plotting dan outline itu apa ya? jelasin ke aku dong aku belum tau pengertiaannya
    2.Kenapa Mbak Dyah Rinni membuat novel dengan cerita dongeng ? bukankah pembaca akan sudah tau endingnya dan terlalu monoton?
    3.Aku pernah baca novel dengan cerita dongeng tapi pengemasannya itu diubah menjadi cerita sci-fi , nah apa kelebihan novel yang mbak kemas agar tidak monoton untuk dibaca pembaca.

  12. Nyi Penengah Dewanti | Kendal | @nyipenengah| nyipenengahdewanti@gmail.com | https://twitter.com/NyiPenengah/status/732130420326838272 |

    Persiapan apa saja yang kakak lakukan untuk membuat novel. Misalnya tokohnya ingin seperti Nicholas Saputra, terus kita tidak hanya ngebayangin tapi sampe ngeprint dan nempelin foto dia di dinding dekat kita menulis. Kalo kakak sendiri biasanya persiapannya apa saja? Dari segi bahan untuk menulis sebuah novel itu.

    Terima kasih

  13. nama : wulandari
    domisili : madiun, JATIM
    akun @wulanchayaank
    email wulanchayaank@gmail.com
    link share :

    https://t.co/9GXc4gb7F8

    Yukk ikutaan mumpung masih ada kesempatan check TL kak @deetopia @0ktabri #MermaidFountain

    pertanyaan,
    Hai Kak Dyah, dalam proses kreatif menulis litte mermaid ini apa saja kesulitan yg kakak alami dan bagaimana menyelesaikannya? .
    terima kasih πŸ™‚
    l

  14. Peri Hutan | @peri_hutan

    Dari semua unsur yang ada di dalam novel, hal terpenting apa yang harus diperhatikan oleh seorang penulis? Terlebih penulis baru? Terus apakah seorang penulis juga harus menyukai membaca?

    Sudah itu saja πŸ™‚

  15. Eris Andriani | Kota Batu Jatim |@RizAnNie88 | ayaseyis(at)gmail(dot)com | https://twitter.com/RizAnNie88/status/731826238147305472

    Pertanyaannya:
    Hai mbak Dyah aku ada pertanyaan nih buat mbak.
    Dalam menentukan karakter Laguna dan Mairin dari manakah mbak Dyah mendapatkan inspirasinya? Dari orang-orang disekitar mbak atau malah mbak terinspirasi dari karakter artis favorit mbak? Kalau iya bisa share sedikit dong mbak awal cerita kenapa mbak menjadikan karakter orang tersebut dalam cerita ini, dan kira-kira ada kesulitan tidak dalam menentukan alur cerita agar karakter si tokoh ini tetap menonjol? ^_^

    Semoga mbak Dyah berkenan menjawabnya, terima kasih

  16. Nama : Pida Alandrian
    Domisili : Aceh
    Twitter : @PidaAlandrian92
    Email : shafrida.alandrian@gmail.com
    Link Share : https://twitter.com/PidaAlandrian92/status/731468101275942912

    Pertanyaan:

    Mbak aku penasaran dgn latar belakang untuk penetapan ide cerita dongengnya niih.. selain dari pemilihan vote pastinya. Pasti ada alasan lain.

    Kenapa mbak lebih memilih cerita Little Mermaid? Kalau di nilai dari sudut pandang yg terkenal, malah menurut aku yang paling terkenal itu bukannya Cinderella yaa .

    Kalau dr cerita Cinderella, banyak pelajaran yang dapat di ambil. Contohnya saja seperti kesabaran itu membuahkan hasil yang maksimal nikmatnya di akhir cerita kalau saja kita mau bersabar sampai akhir (seperti Cinderella karena kesabarannya dia bs mendapatkan kebahagiaannya di akhir cerita),.

    Gitu aja sih mbak..

    Makasiih..

    Salam kenal Pida Alandrian

  17. Putri Prama A. | Probolinggo | @putripramaa | anantaprama@yahoo.co.id | https://twitter.com/PutriPramaa/status/731462435891073024 |
    Ada yang berkata bahwa writing is healing, menurut Mbak Dyah apakah benar bahwa menulis adalah mengobati? Apakah Mbak Dyah merasakannya?

    Dalam menulis, apakah Dyah tipe pengaruh yang memperhatikan keinginan pembaca? Kenapa?

    Dalam proses kreatif, hal-hal apa yang sering membuat kita keluar dari plot yg dirancang di awal? Dan bagaimana cara agar bertahan dengan plot awal? Misalnya, mendadak ingin menulis dengan tema yang lain.

    Maaf pertanyaan ini sedikit mlenceng, Mbak Dyah. Sebuah novel nggak ada artinya jika tidak memiliki pembaca, kan? Sedangkan Mbak Dyah, minat baca Indonesia menurut riset UNESCO hanya 0,1%, hanya 1 dari 1000. Menurut Mbak Dyah, bagaimana cara meningkatkan minat baca menurut Mbak Dyah? Dan, apa yang aku lakukan untuk berkontribusi? Aku bingung, Mbak. :’)
    Terima kasih, Mbak Dyah.

  18. Humaira | Purwakarta | @RaaChoco | humairabalfas5@gmail.com | https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/731031449860595712?p=v | 1. Untuk unsur fantasi, hal apa yang menyulitkan dalam penulisan dan bagaimana cara mengatasinya?. 2. Yang aku dengar, mermaid di novel ini adalah tokoh prianya. Apa alasan yang membuat ka Dyah memilih si tokoh pria bukan tokoh wanitanya dan kesulitannya apa?. 3. Boleh tau bagian paling sulit dan membuat stuck saat penulisan itu yang mana dan mengapa?

    Makasih πŸ™‚ πŸ™‚

  19. Humaira | Purwakarta | @RaaChoco | humairabalfas5@gmail.com | https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/731031449860595712?p=v | 1. Untuk unsur fantasi, hal apa yang menyulitkan dalam penulisan dan bagaimana cara mengatasinya?. 2. Yang aku dengar, mermaid di novel ini adalah tokoh prianya. Apa alasan yang membuat ka Dyah memilih si tokoh pria bukan tokoh wanitanya dan kesulitannya apa?. 3. Boleh tau bagian paling sulit dan yang membuat stuck itu yang mana dan mengapa?

    Makasih πŸ™‚ πŸ™‚

Komentar ditutup.