Haru Biru Cinta Nada di Kota Biru

dghukjilo

BLURB:

Sebagai pencinta warna biru, mengunjungi Chefchaouen—Blue City negeri Maroko—adalah impian bagi Nada Aleema Shahrir. Pucuk dicinta ulam tiba, abangnya berencana berbulan madu ke Maroko dan menawarinya ikut serta. Tentu saja Nada girang. Di kota cantik itu dia berharap bertemu kembali dengan Haykal Baztar Malik,
pria yang sekian lama diam-diam sulit diusir dari hatinya.

Tak dinyana, setiba di sana, sebuah paket istimewa menunggu paket istimewa itu bernama Noemie Anderson. Seorang model sekaligus pengusaha. Lahir dari rahim seorang wanita Maroko yang menikahi pria berdarah Eropa. Berpenampilan ala Kendall Jenner versi Timur Tengah, plus baik hati, cerdas, dan lucu. Noemie mendatangi Nada lantaran ingin kembali mengenal Islam. Mana mungkin Nada menolaknya?

Masalahnya, Noemie melekat pada Haykal seperti lintah. Mereka adalah partner kerja sekaligus kawan lama. Mau tak mau, kehadiran Noemie adalah ganjalan bagi Nada yang menyimpan asa pada Haykal, yang menurut Rania, sahabatnya, adalah buaya darat/playboy cap tikus busuk/serigala berkedok hamster.

Dihujani perhatian Haykal yang memabukkan, dikepung Kota Biru yang romantis, apakah Nada masih cukup waras untuk menentukan keputusan?

SALAAM FROM BLUE CITY OF MORROCO.

Berawal dari tawaran abang dan kakak iparnya—yang tiba-tiba batal pergi di saat-saat terakhir—Nada terbang ke Chefchaouen atau Blue City bersama sahabatnya Rania. Selain itu, sebagai pecinta sejati warna biru, Nada dibuat penasaran dengan indahnya pesona warna biru di kota tersebut. Namun, dirinya pun penasaran untuk ke kota itu karena fotonya yang dulu diambil Haykal di padang pasir—baca juga Love in Marrakech untuk cerita lengkapnya—mejeng di sebuah blog dan si pemilik blog itu, orang aneh bernama Price of Morroco, mengatakan jika pemilik asli foto itu kini tengah menetap di Blue City.

Perjalanan berburu Haykal itu rupanya jauh lebih mudah daripada yang dia sangka karena pemuda itu pun menanti kedatangannya di Blue City. Yang tak Nada tahu sama sekali ialah status pemuda itu masihkah single seperti waktu mereka berpisah terakhir kali, karena kini ada Noemie yang cantik berdiri begitu rapat di sisinya.

Gerak-gerik dua orang itu begitu mencurigakan, membuat Nada dan Rania menduga-duga hubungan semacam apa yang mereka miliki. Keduanya tak segan saling bertukar pujian, panggilan mesra, bahkan saling bersentuhan fisik di muka umum. Ketidaksukaan Nada pada sosok Noemie yang hadir begitu tiba-tiba—atau dirinya yang tiba-tiba muncul di antara mereka berdua?—terpuntir dan berputar balik kala Noemie menyatakan dirinya ingin mengenal dekat Nada karena sosoknya yang mengingatkan Noemie pada sang ibu yang sangat islami, menjaga aurat dengan berhijab dan berlaku santun.

Perjalanan Nada dan Rania mengelilingi Blue City yang sesekali ditemani Haykal atau Noemie ataupun keduanya sekaligus disajikan dengan cukup baik. Sebagai pembaca, aku cukup memahami saat Haykal dan Nada ditinggal bedua saja di sebuah restoran—Raina pulang duluan karena sakit perut dan Noemie ingin menemui temannya lebih dulu—dan mereka pulang dalam keadaan kehujanan, kala Haykal berusaha menyelamatkan Nada dari tabrakan segerombolan orang yang terburu-buru karena hujan dan berakhir dengan tamparan. Nada menjaga dirinya dengan baik, agama tak mengajarkannya untuk biasa bersentuhan dengan lawan jenis, apalagi sampai berpelukan seperti yang dilakukan Haykal padanya—meski sekadar untuk menyelamatkannya dari tabrakan orang-orang saja.

Sepanjang cerita, aku justru dibuat kagum dengan sosok Noemie dan Rania. Meski Noemie sudah cukup jauh dari Islam, dia memutuskan untuk kembali mempelajari agama tersebut melalui Nada, demi kecintaannya pada sang mama. Meski di masa mudanya dia menyaksikan bagaimana mamanya yang dimaki hanya karena satu kesalahan kecil hanya karena pakaiannya yang berbeda dari orang lain di lingkungan sekitar mereka.

“Mama adalah wanita yang manis dan menawan. Berada di dekatnya pada musim panas, kamu akan merasa sejuk. Sebaliknya, duduk di sebelahnya pada musim dingin, kamu bakal menikmati kehangatan. Seperti itulah aku mengingat mama.” — 81

“Suatu ketika Mama kerepotan memarkir. Mobilnya menghalangi jalan. Dari jendela sebuah mobil tahu-tahu muncul kepala seorang bapak yang tampak gusar. Dia meneriaki Mama dengan kasar, ‘Dasar primitif, tidak becus menyetir. Pulang saja kamu ke Arab sana, naik unta!’” — 115

Rania yang sepanjang cerita Love in Marrakech hanya hadir dalam pesan-pesan singkat, obrolan di telepon, dan pemikiran-pemikiran Nada saja, di buku ini hadir utuh dan menemani Nada hampir ke manapun dia pergi di Blue City. Sebagai sahabat yang sedikit lebay dan blak-blakan, aku menyukai Rania karena toleransinya yang tinggi. Meski tak gamblang disebutkan agama yang dia anut, jelas sekali Rania dan Nada saling menghormati meski keyakinan mereka berbeda. Rania pun bisa menjadi penasihat yang paling bijak manakala Nada membutuhkan. Dan jangan lupakan betapa antusiasnya dia saat aka/sedang berbelanja.

“Kalau memang sesakit itu, kenapa tidak kamu ambil jalan yang lebih mudah? Kamu lanjut saja dengan Haykal. Tidak perlu terlal memikirkan Noemie. Kita tidak bisa kan selalu menyenangkan orang-orang di sekitar kita. Hidup memang tidak sempurna. Jadi, tidak ada kewajibanmu untuk selalu memikirkan orang lain.” — 193

Jika mau dibandingkan antara Love in Marrakech dan Love in Blue City, aku lebih menyukai Love in Blue City karena berhasil tampil sedikit lebih baik daripada Love in Marrakech. Masalah besar yang membuat Nada kabur ke Marakesh akhirnya selesai dengan baik dan terbukti dia bisa hidup dengan baik-baik saja meski misinya menggagalkan sebuah pernikahan telah gagal—misi semacam apa itu? Baca di love in Marrakech.

Bagian yang menurutku jauh lebih baik adalah aku sudah cukup kenyang dengan bijak dan sempurnanya Haykal di buku sebelumnya, tetapi di buku ini dia tampil baik-baik saja meski tak begitu banyak berubah. Dia konsisten. Juga sama dengan Nada, dia tetap keras kepala dan senang berspekulasi sendiri tanpa benar-benar bicara atau mencari tahu untuk membuktikan. Namun, itu sudah menjadi khasnya Nada, dan menurutku penulis telah berhasil membangun karakternya dan tak mendadak berubah tanpa sebab di pertengahan cerita.

Yang justru membuat buku ini beberapa tingkat lebih baik adalah hadirnya Noemie dan Rania yang sudah kujabarkan kelebihannya di atas, mereka berhasil membuat Love in Blue City hadir lebih semarak. Terlebih lagi berbagai macam variasi color shade biru sebagai judul bab sangat sejalan dengan judul dan sampulnya yang cantik.

Sayangnya, naiknya level cerita Love in Blue City diiringi beberapa hal yang menurutku mengganggu. Yang pertama, perubahan gaya penceritaan yang di buku sebelumnya menggunakan sudut pandang orang pertama (POV1) bergantian antara Nada dan Haykal, menjadi orang ketiga (POV3) di buku ini. Sebetulnya hal ini bukanlah merupakan sebuah kekurangan karena aku pun memahami, karena hadirnya karakter baru yang cukup banyak dan cerita yang terjadi tak melulu di antara Nada dan Haykal, penggunaan sudut pandang orang ketiga akan lebih efisien. Namun, hal ini membuatku kesulitan merasakan emosi Nada yang keras dan Haykal yang cara berpikirnya sama dengan tingkah lakunya sendiri, bengal. Kedua, ada beberapa typo atau salah pengetikan yang mengganggu, yaitu di halaman 39, tertulis merubah, padahal seharusnya mengubah. Pada halaman 107, Nada mengenyit, bukannya mengernyit.

 Di halaman 109 terdapat kalimat rancu, “sementara sekelilingnya adalah para ajudan…” yang barangkali akan lebih baik jika diselipkan ‘di’ di antara sementara dan sekelilingnya. Dan pada halaman 154, ketika Haykal memerhatikan Nada, dinarasikan dengan ‘matanya yang tertunduk’ menurutku akan lebih baik jika disampaikan dengan lebih pasti, apakah kepalanya yang tertunduk atau sorot matanya yang jatuh ke bawah.

Untuk menutup resensi Love in Blue City ini, aku akan mengulangi kembali kalimat yang sama yang kugunakan untuk menutup resensi Love in Marrakceh, novel ini cukup keren bagi yang ingin membaca cerita perjalanan yang tak melulu berisi deskripsi tempat seperti buku catatan perjalanan dan menyuguhkan romansa yang tidak berlebihan. Pasang surut perasaan Nada pada Haykal di sini jauh lebih pasti karena Haykal pun telah terang-terangan menyatakan perasaannya pada gadis itu, meski tetap ada masalah yang merintangi hubungan mereka. Masalahnya apa? Noemie? Atau… Daripada penasaran, silakan dinikmati sendiri di Love in Blue City.

“Sudahlah. Jangan meminta terlalu banyak. Sayang-sayang itu harus diperjuangkan. Bukan hal yang bisa diminta sewaktu-waktu seperti baju obralan yang tak laku.” — 132

Judul : Love in Blue City

Penulis : Irene Dyah

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Genre : Fiksi, Romance

Kategori : Young Adult, Travel Romance

Terbit : Mei 2016

Tebal : 219 halaman

Ukuran : 13,5 x 20 cm

Cover : Softcover/Paperback

Harga : 59.000 rupiah

ISBN: 9786020328652

 

Iklan