Romansa Membumi di Tanah Makaresh

Judul               : Love in Marrakech

Penulis             : Irene Dyah

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Genre              : Fiksi, Romance

Kategori          : Young Adult, Travel Romance

Tahun Terbit    : Februari 2016

Tebal               : 210 halaman

Harga              : 55.000 rupiah

BLURB:

Apa yang akan kaulakukan bila sendirian di negeri asing, di tengah pasar yang sibuk, dan menemukan seorang lelaki tampan tekun menguntitmu?

Nada, si gadis pingitan yang melarikan diri dari Jakarta, memutuskan melakukan tindakan ekstrem: menghajar lelaki itu dengan tasnya dan berteriak, “Copeeet!” karena jelas lelaki itu bukanlah Pangeran Maroko yang tengah menyamar!

Haykal, pria malang yang dipukulinya itu, ternyata bukan copet. Namun, dia memiliki misi lain yang membuat Nada membencinya berkali-kali lipat. Misi yang akhirnya terbongkar gara-gara sebuah foto buram lima cowok dalam kostum cheerleader. Semua semakin kacau, apalagi Nada juga ingin menyelesaikan misinya menggagalkan sebuah pernikahan.

Apakah labirin merah bata kota Marrakesh akan mengizinkan keduanya menyelesaikan misi bersama?

DI SEBUAH PASAR DI MARAKESH, Nada merasa sesosok asing mengekori setiap gerak-geriknya, seolah menunggu-nunggu waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu. Yang diduga oleh Nada adalah, orang itu berniat jahat dan karena itu dia memilih menghindar dan bersembunyi. Namun, orangt yang dia duga copet dan telah dipukuli dengan kalap menggunakan tas tangan yang dia bawa itu ternyata orang Indonesia. Siapa yang tidak kaget menemukan orang yang ternyata berasal dari negara yang sama dengannya di tempat asing seperti keramaian pasar di Makaresh.

Misinya menggagalkan sebuah pernikahan dengan melarikan diri ke Makaresh akhirnya dia ceritakan pula pada Haykal, setelah cowok asing itu membawanya serta dalam serangkaian perjalanan menyenangkan mengelilingi tempat-tempat yang tak terduga di Makaresh. Yang tidak Nada duga ialah sosok tinggi tampan yang ternyata seorang model dan fotografer freelance itu rupanya juga memiliki misi rahasianya sendiri. Yang paling membuat Nada terkejut adalah cowok itu ternyata bukan orang asing baginya!

Apa yang terjadi setelah mereka saling mengetahui misi masing-masing?

Love in Marrakech yang ditulis oleh Irene Dyah ini adalah bagian dari proyek Gramedia Pustaka Utama yang bertajuk Around The World With Love. Novel ini tergabung di dalam Batch 1 bersama Love in Edinburgh, Love in Adelaide, dan Love in Paris yang berturut-turut ditulis oleh Indah Hanaco, Arumi E, dan Silvarani.

Banyak kelebihan yang ditawarkan dari kisah Haykal dan Nada ini, salah satunya adalah interaksi kedua tokoh yang terjalin baik tanpa mengumbar kemesraan berlebihan—karena pada dasarnya mereka memang sekadar diam-diam saling suka tapi nggak pacaran—yang menurutku sangat jarang di novel romansa belakangan ini. Dan setelah berbagai hal yang dialami oleh keduanya, chemistry yang terjalin pun cukup manis. Haykal berusaha menghormati Nada yang menjaga dirinya sesuai dengan perintah agamanya. Meski diam-diam Haykal sesekali berpikiran sedikit nakal. Boys will be boys.

Segala kekhasan Makaresh tertampil baik tapi tak berlebihan, sehingga tak membuat buku ini terkesan seperti buku catatan perjalanan yang sekadar diselipkan kisah romansa. Ditambah lagi, banyak kalimat-kalimat quotable yang menarik sepanjang cerita.

“Bukankah traveling itu dilakukan untuk menenangkan pikiran, recharge energi, rileks. Jadi, kenapa kita harus disibukkan dengan upaya mengejar waktu ke banyak tujuan wisata, susah payah mendatangi tempat yang terpencil, atau makan kuliner lokal yang berisiko membuat perut protes bila tak sesuai?” — 11

“Jadi… memang kamu selalu memilih jalan bungka, dan pasrah, sekalipun yang kaudapatkan tidak sesuai keinginan?

“Ya. Kadang begitu. Daripada menyakiti orang lain. Aku tidak tega.” — 25

“Dan, kalau kamu tidak bisa berucap yang baik, maka diamlah.” — 113

“Aku percaya kondisi itu tidak akan berubah setelah dia berkeluarga sekalipun. Sebaiknya, kamu yang harus berubah. Berlatihlah memberinya ruang. Berlatihlah melepaskan orang-orang yang kamu sayangi.kita bukan pusat dunia. Tak bisa selamanya memaksa orang-orang itu beredar mengelilingimu, seperti planet mengitari matahari.” — 152

“Ada kebahagiaan istimewa yang hanya bisa kita dapatkan dari pasangan hidup, Nada. Dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kebahagiaan itu tak bisa digantikan oleh orang lain, baik orangtua, saudara, kawan yang paling dekat sekalipun.” — 152

“Kami para pria adalah makhluk sederhana. Tidak ada sesuati di balik sesuatu. Percayalah. Kalau kami bilang A yang berarti artinya A.” — 161

“Tanyakan langsung semua pertanyaan di kepalamu, biar kalian sama-sama lega… jangan cuma memendamnya, sambil sibuk berhalusinasi. Itu hanya akan memperburuk maslaah…” — 163

Novel Love in Makkarech ini menyuguhkan unsur perjalanan yang tak sepenuhnya romantis, tetapi lebih kepada menyajikan konflik yang berasal dari kerasnya Nada yang sulit menerima keputusan dan perubahan yang harus terjadi di dalam hidupnya di Jakarta. Konflik yang disuguhkan agak sulit untuk diterima, sekadar karena keegoisan dan keras kepalanya Nada yang sukses membuat geregetan dan geleng-geleng kepala, membuat dia sulit dimengerti pada awalnya. Namun, karena cerita yang disajikan dengan baik oleh penulisnya sehingga Love in Makkarech ini bisa diterima oleh pembaca. Juga karakter kerasnya Nada sangat kuat dan konsisten dari awal hingga akhir cerita, sehingga dapat disimpulkan jika penulis telah berhasil membuat karakter yang stabil meski berisiko tidak lovable di mata pembaca. Typo yang kutemukan sejauh membaca Love in Marrakech hanya di halaman 174 pada bagian pesan yang harusnya dikirim oleh Rania justru tertulis dikirim oleh Nada.

Perjalanan Nada dan Haykal di Makaresh ini, mengajarkan kita untuk memberi ruang yang cukup pada siapa pun yang kita sayang di sekitar kita tanpa perlu mengekangnya dan membuatnya harus selalu ada untuk kita. Seperti kata Haykal, tak selamanya orang-orang itu beredar mengelilingimu, seperti planet mengitari matahari. Terlebih, jangan suka sibuk dengan pikiran sendiri, memperkirakan segala sesuatu tanpa pernah benar-benar berniat mencari tahu kebenarannya. Akhir kata, novel ini cukup keren bagi yang ingin membaca cerita perjalanan yang tak melulu berisi deskripsi tempat seperti buku catatan perjalanan dan menyuguhkan romansa yang tidak berlebihan.

Iklan