Cerita Remaja yang Penuh Lebam dan Luka

IMG_20160711_123304

DIBUKA dengan tingkah Sam Alqori yang konyol, novel ini serta merta mencuri perhatian sejak halaman-halaman awalnya. Serta sikap aneh Zee Rasyid, teman sebangku Sam saat tamu dari KPAI (Kantor Pusat Agama Islam, kalau kata Sam) yang berusaha menghindari kontak langsung dengan orang-orang itu dan menutupi memar di bahunya. Menarik!

Perjalanan sepasang teman sebangku ini membuat pembaca betah duduk diam membacanya karena disampaikan dengan bahasa yang lugas dan sederhana. Sejak dipindahkan ke kelasnya yang baru, Zee harus membiasakan diri berada di tengah keramaian dan mulai bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, dirinya sama sekali tidak tertarik untuk berteman dengan siapa pun juga. Alasannya karena tidak mau ada satu orang pun yang iseng menanyai tentang memar dan bekas lebam di tubuhnya.

Sementara si bengal Sam Alqori, satu-satunya orang di kelas itu yang bersedia duduk di sebelah Zee, meski berasa dirinya bodoh di setiap pelajaran tetapi mengenal dengan jelas jika memar yang disembunyikan Zee sama sekali bukan karena jatuh di kamar mandi atau menubruk perabot—seperti alasan Zee setiap ditanyai selama ini. Lebih dari apa pun, Sam mengerti. Ibu dan kakak perempuannya adalah korban dari hal yang sama, kekerasan dalam rumah tangga. Pelakunya tak lain ialah ayahnya sendiri.

Semula Sam membiarkan saja hal itu karena terlihat jelas bahwa Zee sendiri yang enggan dibantu oleh orang lain. Namun, hatinya terusik saat menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh ibu Zee saat dirinya datang berkunjung ke rumah temannya itu.

Sejak hati itu, semua masalah bagai lembar demi lembar kulit bawang yang dikelupas. Semakin dalam, semakin pedih dan menyiksa diri. Dengan segenap rasa pedulinya, Sam berusaha membalas bantuan Zee—yang menolongnya melakukan sesuatu yang penting dan kelak berguna untuk masa depannya—dengan mencabutnya untuk lepas dari kekerasan yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Sam pun melakukan hal yang sama, menyelamatkan ibu dan kakak perempuannya dari jerat kekerasan di rumah mereka.

Jika dibandingkan dengan yang menawarkan cerita serupa (kekerasan pada anak, kekerasan dalam rumah tangga), novel ini sangat menarik karena yang dibahas bukan melulu luka dan sakitnya saja melainkan juga proses panjang penyembuhannya.

Banyak hal menarik yang ditawarkan dari cerita antara Sam dan Zee di buku ini, salah satunya adalah perkembangan diri tokoh yang terjadi seiring jalannya cerita tanpa terkesan dipaksakan. Sampulnya yang merah menyala sangat menarik perhatian sata pertama kali melihat, juga dua tangan yang bertautan-yang satu penuh memar dan lainnya luka-luka-sangat mewakili isi buku.

Meski diceritakan melalui dua perspektif, semuanya tersampaikan dengan baik dan tak sulit membedakan suara Zee dan Sam. Karakterisasinya baik. Dan yang paling besar kemungkinan akan mencuri perhatian itu ialah sosok Vini. Teman yang pelit, judes, tapi sering kali ucapannya menyentil. Semisal di halaman 188 ketika Sam meminta doa karena menganggap doa temannya itu mujarab, yang lalu dijawab oleh Vini seperti ini, “kalau doa gue mujarab, mungkin gue udah kaya.”

Terlebih lagi banyak pembahasan mengenai masalah lainnya yang acapkali dihadapi oleh remaja pada umumnya. Dan kegalauan menentukan masa depan, lanjut kuliah atau kerja? memilih jurusan apa kuliah nanti?

IMG_20160711_123329-A

Pertemanan antara Sam, Zee, Vini, Diga, dan lainnya di dalam novel ini sangat terasa akrab dan erat. Tidak ada kesan dibuat-buat apalagi dipaksakan.

IMG_20160711_123329-B

Pertemanan akan terbentuk dengan sendirinya jika kita saling membutuhkan dan melindungi. — 235

Ada pula humor receh khas remaja, sedikit kurang ajar sebetulnya kalau diucapkan oleh cowok ke cewek yaitu tentang pisang. Tapi tanpa mencoba munafik, setiap pertemanan sepertinya akan selalu ada momen seperti ini. Saling melempar jokes receh yang ngeres.

Lebih dari itu, ada pula kalimat-kalimat sentilan yang tentang hidup dan kehidupan, tentang cinta, juga hal-hal umum lainnya.

“Percayalah masih ada orang-orang jujur di negeri ini. Kamu jangan memukul rata semuanya” – 75

“Begitulah kalau kita sudah cinta dan sayang sama seseorang, logika jadi tumpul. Kalau lo cinta sama seseorang sampai merasa sakit seperti ini, berarti lo beneran sayang sama orang itu.” — 126

IMG_20160711_123329-F

Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Tidak selalu terang dan tidak selalu suram. Kadang rapi, kadang berantankan. — 180

Setiap anak berhak bahagia meski keluarganya berantakan. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari keluarganya, juga hukum. — 235

Yang sedikit saja menodai bagusnya buku ini menurutku ialah kurangnya latar tempat, tetapi mungkin pembaca bisa menyimpulkan sendiri kalau kisah ini berlatar di Jakarta karena penggunaan lo-gue dalam percakapannya. Lalu label Young Adult yang disandang, agak kurang cocok dengan kompleksnya masalah yang dibahas di dalamnya. Kalau boleh usul, mungkin lebih cocok kalau dilabeli Young Adult meskipun tokohnya masih sekolah. Satu hal lagi yang mengganggu ialah pengetahuan Sam tentang kemeja sifon di halaman 151. Meski sedikit, hanya satu kalimat tapi tetap saja janggal karena jarang ada cowok yang paham tentang kain dan bahan pakaian.

Novel setebal 237 halaman ini mengangkat hal yang berat dan mendalam, tetapi menyampaikannya dengan ringan, lincah, dan lugas. Mengajarkan kita untuk lebih berani menyatakan hal yang salah itu salah dan menyuarakannya. Melakukan pembelaan diri dari kekerasan dalam rumah tangga bukan berarti kita tidak sayang pada ibu, ayah, atau anggota keluarga lain yang melakukan tindak kekerasan. Melainkan itu adalah usaha kita menyelamatkan mereka dari tindakan yang dapat menghancurkan diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Sangat merekomendasikan bagi yang ingin mencoba bacaan ringan tapi berbobot, terutama bagi kalian yang bosan dengan kisah cinta mendayu-dayu.

Judul               : Insecure

Penulis             : Seplia

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Genre              : Fiksi, Teenlit

Kategori          : Slice of Life

Tahun Terbit    : Mei 2016

Tebal               : 237 halaman

Harga              : 60.000 rupiah

Resensi ini diikutsertakan pada lomba resensi yang diadakan oleh penulisnya. Yang mau ikutan, masih ada kesempatan sampai 20 Juli 2016!

CmVyKvcUkAAkZNy

Psssst…

Sebetulnya novel ini pun kudapatkan gratis dari kuis yang diadakan oleh @LiaSeplia di linimasanya. Namun, karena Lia bilang nggak masalah untukku ikutan lagi kuis resensi sekali lagi, jadi coba-coba peruntungan lagi. Omong-omong, ini resensi singkatku di Goodreads setelah usai membaca buku ini untuk kali pertama. Dibuang sayang 😡

Melanggar janji pada diri sendiri dengan menyelesaikan novel ini lebih dahulu daripada Love in Blue City. Alasannya lebih karena persoalan personal, ya. Merasa dekat dengan cerita di buku ini karena pernah mengalaminya sendiri. Tunggu, aku tidak mau curhat di kolom review ini. Balik lagi ke Insecure, menurutku ceritanya terlalu berat untuk menyandang label teenlit, alasannya karena ‘nuansa’ ceritanya kompleks, nggak sesederhana cerita remaja biasa (ya tentu berat, bahasannya KDRT dan kekerasan pada anak). Rasanya lebih cocok masuk ke label Young Adult sih. Tapi mungkin karena tokoh utamanya masih SMA ya, jadi tergolong teenlit.

Iklan