Jasmine, Fuji, dan Pelajaran dari Masa Lalu

img_20170103_102648

 Bukan hal yang mudah bagi Ladys setelah mengetahui bahwa pengorbanan akan kehidupan dan kariernya yang stabil di Korea dibalas dengan perselingkuhan oleh Esa. Lelaki yang membuatnya meyakin-yakinkan diri untuk kembali ke Bali—setelah tiga belas tahun meninggalkan kehidupannya di sana—bahkan sudah melangkah meninggalkannya begitu jauh. Lelaki itu akan menikah dengan perempuan Bali yang bermasyarakat, kriteria yang sesuai dengan keinginan keluarga besarnya, sesuatu yang sangat bukan Ladys. Caranya bertanggung jawab pada Ladys pun menyakitkan yaitu mendorongnya untuk kembali ke Korea, padahal hal itu pun tentu tidak mudah bagi Ladys. (hal. 48)

Dias dan Tyas, adiknya, menjalani kehidupan yang sulit karena kebiasaan buruk ayah mereka, satu-satunya tempat mereka bergantung setelah ditinggalkan sang ibu. Judi, mabuk-mabukan, menjadi pelarian ayah mereka sementara Dias dan Tyas pontang-panting berusaha untuk terus hidup. Dias ingin melangkah maju, tetapi masa lalu terus datang dan menghantui pikirannya. (hal. 16)

Ladys dan Dias berseteru bahkan sejak pertemuan pertama mereka. Ladys tidak terima mendapat masukan dari Dias, tentang Rule of Thirds dalam fotografi. Hubungan tak menyenangkan itu terus berlangsung sampai mereka mulai mengenal satu sama lain pelan-pelan, selapis demi selapis. Ibarat mengupas kulit bawang, mereka menemukan perih semakin dalam lapisan mereka terkelupas.

Masa lalu kelam yang nyaris serupa, sama-sama pernah ditinggalkan oleh Ibu, pengkhianatan cinta yang pernah dilakukan oleh pasangan masing-masing, membawa mereka berdua untuk saling memahami perasaan satu sama lain. Mereka saling belajar bahkan saling menjaga. Fotografilah yang berperan penting dalam perkembangan hubungan mereka berdua. Yang paling menyenangkan, Fuji dan Jasmine, sesuatu yang menghubungkan mereka dengan sang ibu, menandai perjalanan mereka, bahkan ketika mereka sudah tidak lagi bersama sekalipun.

“Kebenaran itu kadang adalah proses. Banyak orang yang menemukannya setelah seratus kali kesalahan sebelum akhirnya bisa memutuskan hal yang terbaik.” (hal. 124)

Namun, ada beberapa halaman yang perlu ditandai, meski sejujurnya tidak mengganggu.

Belakangan saya biasanya tidak semelankolis ini…” (hal. 95). Dua kata yang dicetak tebal tidak sejalan dn membuat kalimat menjadi tidak jelas. Mungkin ada baiknya dipilih salah satu.

“Tyas sedang mencuci kamar mandi ketika aku masuk.” (hal. 120). Sedikit janggal meski di kalimat berikutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud mencuci kamar mandi itu ialah membersihkannya.

Mouse kembali saya gapai hingga layar monitor kembali memperlihatkan gambar yang sedang saya kerjakan.” (hal. 163). Mouse tidak dicetak miring, sementara kata ‘idle’ yang notabene sama-sama bahasa Inggris dicetak miring meskipun yang satu kata benda satu lagi kata sifat.

“Di singasananya, Jasmine sudah kembali mati suri.” (hal. 226). Kembali mati suri atau kembali dari mati suri?

“Dias tersedak irisan mentimun dan harus memukul punggungnya keras.” (hal. 231). Agak janggal di sini, meski Dias tidak tersedak irisan mentimun pun bagaimana dia bisa memukul punggungnya sendiri?

Meski demikian, Rule of Thirds ini novel yang menawarkan banyak hal. Beragam hal dijejalkan menjadi satu, perselingkuhan, keluarga yang bertahan setelah ditinggal salah satu kakinya, komitmen, keputusan yang salah, kebohongan yang menutupi kebohongan yang lain, hubungan kakak dan adik, orangtua dan anak, antar rekan kerja, tarik ulur dengan masa lalu, fotografi, Bali sebagai latar cerita. Namun, hal-hal itu tidak membuat cerita menjadi sulit dipahami dan membuat pembaca mual karena dijejali banyak hal, karena paket lengkap ini disuapkan pelan-pelan. Perkembangan setiap karakternya pun sangat tampak seiring dengan jalan cerita. Fotografi dan Bali yang disajikan dalam cerita menunjukkan jika penulisnya melakukan riset dengan benar-benar baik, tidak menjadikannya sekadar tempelan.

Tidak sekadar percintaan, novel ini memberikan lebih dari yang dibayangkan. Sangat merekomendasikan novel ini untuk yang menyukai cerita yang kompleks, tetapi tetap menyenangkan untuk dibaca. Novel ini menjadi angin segar ditengah banyaknya novel roman yang beredar di toko buku. Ada cinta, tawa, sedih juga kesan mendalam dalam novel ini serta pelajaran yang bisa dipetik.

Judul Buku                  : Rule of Thirds

Penulis                         : Suarcani

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Tahun Terbit               : Desember, 2016

Tebal                           : 278 halaman

ISBN                           : 978-602-033-475-2

Harga                         : Rp68.000

Iklan