Double Trouble! Review

Kali ini aku sengaja memberi judul postingan resensi ini dengan Double Trouble! Review sebab aku membeli dua buku ini dalam satu paket khusus di bukabuku.com. Jadi, aku akan merangkum resensi singkat dua buku ini persis seperti yang kulakukan di akun instagram-ku, @oktabri, tanpa mengubah barang satu titik atau koma pun.
c1qwytwvqaqazsq

Simon vs The Homosapiens Agenda

Suka. Sama sekali tidak memiliki ekspektasi apa pun pada novel ini tapi ketika mulai membacanya pelan-pelan dibuat suka sama tokoh-tokohnya. Beli buku ini pun mulanya karena rasa penasaran setelah main ke akun Instagram penerbitnya dan menemukan pembahasan tentang label ‘Novel Dewasa’ yang disematkan di sampul belakang, padahal seharusnya ini novel Teenlit atau Young Adult. Alasan penyematan label itu bukan tidak mendasar sama sekali, tapi setelah membacanya membuatku paham. Topik yang diangkat begitu sensitif, memang perlu ‘kedewasaan’ untuk membaca novel semacam ini, meski kedewasaan yang dimaksud belum tentu berkaitan langsung dengan usia pembaca. Pola sebab akibat di novel ini bagus sekali. Aku berpikir, mungkin ini yang dimaksud Dee Lestari, plot yang baik itu plot yang jalinannya kuat, menjejak tanah bukannya melayang. Bahasa yang digunakan pun sederhana, sesuai dengan tokohnya yang seorang anak sekolahan. Merekomendasikan novel ini untuk pembaca dewasa dengan kedewasaan yang memadai, bukan sekadar tua saja.

Rating: 4/5 bintang.

 

Being Henry David

Memikirkan pendapat, pandangan, penilaian orang lain tentang dirimu itu bukan masalah besar. Semua orang setidaknya pernah mengalaminya di satu masa dalam hidup mereka. Tapi berbeda halnya jika kau terlalu memikirkan seperti apa pendapat orang lain tentangmu, juga pandangan mereka terhadap tindakan yang kau lakukan, dan bagaimana penilaian mereka terhadap seutuhnya dirimu. Itu bukan hal yang baik. Kamu berasumsi, tanpa benar-benar menghadapinya atau coba mencari tahu kebenarannya. Itulah yang terjadi pada Hank, Henry, Danny, atau Dan di novel Being Henry David ini. Dia berasumsi. Merasa bersalah atas kesalahan-kesalahannya, sampai kemudian dia melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan. Dia berlari. Meninggalkan masalah jauh di belakangnya. Namun, masalah tidak pernah dapat menuntaskan dirinya sendiri. Cerita dimulai saat dirinya terbangun di Stasiun Penn, New York. Kepalanya memar dan tanpa tanda pengenal atau benda apa pun. Kecuali sebuah buku, Walden yang ditulis oleh Henry David Thoreau. Dia sama sekali tak mengenal dirinya sendiri, tidak dengan nama, tidak ada jejak tentang masa lalunya yang tersisa. Anak lelaki itu memulai hidupnya sebagai Henry David. Masalah silih berganti menghampiri sementara dia terus berkutat dengan monster di dalam dirinya yang seolah membuas tiap kali dia berusaha mengingat sesuatu tentang masa lalunya. Sungguh, ini kali pertama buatku membaca cerita dengan tokoh utama yang mengalami amnesia. Benar-benar amnesia, bukan sekadar lupa ingatan dan kemudian mendadak ingat lagi. Henry atau Hank di sini berjuang untuk mendapatkan ingatannya kembali dan terkadang ingatan itu datang dengan sendirinya tanpa dia pinta. Menyerbu masuk begitu saja. Aku suka buku ini. Namun. Sedikit dibuat gregetan oleh Hank yang seperti selalu memilih lari daripada menyelesaikan masalah. Tapi aku tetap suka. Semuanya beralasan, dan masuk akal. Jelas sekali penulisnya telah meriset dengan amat baik. Walden, dan segala tentang Henry David Thoreau. Merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang mau bersabar dan hanyut dalam kisah bocah amnesia yang berjuang untuk kembali ingat.

Rating: 3/5 bintang.

Iklan